Pesta Tahun Baru di Perpustakaan

Biasanya orang-orang merayakan tahun baru di pantai, di halaman belakang rumah, atau di lantai ke-lima belas Hotel Shangri-La. Tapi tahun baruku berbeda. Bukan hanya karena pandemi COVID-19, menurutku itu sudah terlalu, predictable? Mudah ditebak. Tapi juga karena keluargaku sudah tidak terlalu mementingkan bergantinya angka 20 menjadi 21. Mungkin beberapa kakakku diam-diam makan sate taichan untuk merayakannya, tanpa sepengetahuanku tentu saja, tetapi jika tidak, keluargaku tidak begitu peduli. Sedikit aneh menurutku, karena tahun-tahun sebelumnya kita selalu merayakannya.

Namun aku disisi lain, menganggap tahun baru hal yang spesial, karena tahun baru bisa menjadi alasan yang masuk akal untuk bermalas-malasan. Hah, maksudnya bagaimana? Kalian pasti pernah kan, bermalas-malasan dan tidak melakukan hal yang produktif dengan alasan, "Produktifnya pas tahun baru, saja. Sebentar lagi, kok, sudah November, juga." Dan, itulah aku pada tahun 2020 lalu. Tapi dua bulan berlalu begitu cepat dan aku harus menepati janjiku pada diri sendiri. Akhirnya malam tahun baru pun datang dan aku memutuskan untuk merayakan momen ini. Momen di mana aku akhirnya menjadi anak kelas delapan yang "produktif" dan tidak menghabiskan malamnya menonton TikTok tentang rekomendasi novel enemies to lovers sampai subuh. Tidak, sudah kita buang jauh-jauh diriku yang seperti itu. 

Tapi pertanyaan besarnya adalah, di mana dan bagaimana aku merayakannya? Simpel, aku merayakan bergantinya tahun ini di perpustakaan. Lah, tapi kan merayakan tahun baru biasanya berisik-berisik, memang kamu bisa berisik di perpustakaan? Ya bukan di perpustakaan sungguhan, lah! Kalau kalian belum tahu, aku suka banget baca buku. Selain menonton video-video di TikTok, aku bisa menghabiskan buku Shadow and Bone karya Leigh Bardugo dalam satu malam, serius! Jadi, aku memiliki lumayan banyak koleksi buku. Oke, bukan lumayan, tapi banyak banget. Aku punya rak buku di kamarku dan beberapa laci di lemariku berisi novel-novel yang tidak muat di rak buku. Kamarku sudah seperti perpustakaan! Kalau aku tidak sesayang itu dengan buku-bukuku, sudah kujadikan perpustakaan sungguhan, deh! 

Jadi, satu pertanyaan sudah terjawab, kan? Aku merayakan tahun baruku di kamarku! Tapi bukan itu saja, aku menggelar karpet dan menata buku-buku favoritku (seperti serial Harry Potter, Dork Diaries, Nancy Drew, Five Feet Apart, Little Women, banyak deh!) di atasnya, membentuk lingkaran. Dan, pastinya, aku duduk tepat di tengah lingkaran itu. Tepat pukul 23.59, aku menyalakan YouTube lalu mengetik, Kiwi Harry Styles (ya, aku juga penggemarnya, hehe). Aku pernah menonton video, jika kamu menyetel lagu Kiwi oleh Harry Styles pada malam tahun baru tepat pada pukul 23.59, kamu akan mendengar Harry menyanyikan bagian reff-nya tepat pada pukul 00.00. Menurutku, itu asyik sekali, sih. Bagaimana tidak? Menyambut tanggal 1 Januari dengan suara indahnya Harry Styles. Dengan buku-buku favoritku pula!


It's New York, baby, I was jacked up! Hey!

Dan akhirnya, reff pun terdengar dan kamarku ini menjadi perpustakaan yang paling gaduh sedunia. Lagu rock yang disetel, suara serakku yang ikut bernyanyi, dan suara hentakan kakiku yang melompat-lompat, ditemani dengan cemilan-cemilan yang kuambil dari kulkas sebelumnya. Aku mengintip dari jendela dan menyaksikan letusan kembang api yang warna warni, menambah keberisikan di perpustakaan kecilku ini. Tapi, pesta kecilku belum selesai sampai situ saja. Aku memulai tahun 2021 dengan tak hanya lagu Kiwi, tapi juga novel favoritku sepanjang masa, Harry Potter and the Sorcerer's Stone. Aku membacanya dengan kepalaku di atas tumpukkan buku dan badanku yang tertutupi selimut putih, dan itu adalah malam tahun baru terbaikku! Membuka bab baru, bab ke 13 yaitu ANJANI YANG TIDAK BERMALAS-MALASAN. Hal seperti ini harus dibuka dengan sesuatu yang memorable, bukan?

Memang sih, tahun baru seharusnya dirayakan bersama keluarga, teman-teman, dan gelas-gelas berisi soda. Tapi tentu saja, sebagai warga negara yang berempati dan penuh tanggung jawab, aku memutuskan untuk tidak merayakannya di luar dan tetap menjaga jarakku di dalam rumah. Dan juga karena keluargaku sudah tidur dan aku satu-satunya yang ingin merayakan tahun baru ini. Awalnya kupikir itu akan menjadi tahun baru terburuk selama 12 tahun aku hidup, tapi setelah berpikir kreatif dan memanfaatkan apa yang kupunya, ternyata tidak buruk. Sangat menyenangkan malah! Untungnya lagi, aku tidak perlu repot-repot mengobrol dengan banyak orang dan memaksakan diriku untuk bersosialisasi, seperti tahun-tahun baru yang sebelumnya (karena aku benci harus meneruskan sebuah perbincangan). 

Begitulah malam tahun baruku, memang tidak mewah dan heboh, tapi aku ditemani dengan hal-hal yang aku suka, seperti Harry Styles, selimut tebalku, dan Harry, Ron, dan Hermione. Kuputuskan untuk tidur setelah membaca kurang lebih tiga bab dari buku itu, dan berjelajah ke dunia mimpi. 

Jakarta, 5 Februari 2021 (ya, aku menulis ini telat sekali),
Anjani.



Nama: Anjani Artika Larasati
Kelas: 8E
Tugas Ekskul Jurnalistik

Comments